7.000.000

Pusaka Keris Naga Siluman Primitif

1 dari
Sebelumnya Selanjutnya

Detail Iklan

  • ID Iklan: 3780

  • Ditambahkan: Desember 25, 2018

  • Harga Jual: 7.000.000

  • Kondisi: Bekas

  • Daerah: Jawa Timur

  • Kota: Sidoarjo

  • Telepon: 08995545878

  • Pengunjung: 135

  • Tanyakan: Via WhatsApp

Deskripsi

Dhapur : Naga Siluman (primitif)
Pamor : Ngulit Semangka Nggajih
Tangguh : Madiun Abad XI
Asal-usul Pusaka : Madiun, Jawa Timur
Keterangan Lain : dhapur langka Jawa Timuran
Kyai berarti tuan. Orang Jawa itu tidak hanya menghormati orang, tetapi juga menghormati benda yang kemudian disebut Kyai. Semua yang dimiliki seorang Raja paling tidak memakai nama ini (kyai). Nogo adalah ular besar dalam mitologi dengan sebuah mahkota di kepalanya. Siloeman adalah sebuah nama yang terkait dengan kelebihan atau bakat-bakat luar biasa, seperti kemampuan untuk menghilang dan seterusnya. Oleh karena itu, nama keris Kyai Nogo Siluman berarti raja ular penyihir, sejauh hal itu dimungkinkan untuk menerjemahkan sebuah nama yang megah
NAGA PRIMITIF (ABSTRAK), istilah naga primitif disamping dipergunakan sebagai istilah keris naga yang dilihat dari segi garapnya juga merupakan salah satu dari jenis motif naga. Naga primitif merupakan istilah dari semua motif naga, apapun dhapur-nya, baik yang dihias logam mulia maupun tidak, bilah lurus ataupun luk yang dibuat dengan sederhana (bentuknya kadangkala tidak jelas atau abstrak). Karena bentuknya sederhana sehingga kadangkala menjadi sulit menentukan nama dhapur kerisnya. Motif pahatan naga semacam ini biasanya dibuat oleh Empu-Empu yang tinggal jauh di luar tembok kota (kraton) atau Empu-Empu dusun yang tidak mengabdi di lingkungan istana. Penggunaannya adalah masyarakat pada umumnya, tokoh masyarakat seperti kepala desa, ulama, spiritualis atau mereka yang status sosialnya tidak terlalu tinggi atau menengah ke bawah. Mereka mencoba-coba meniru keris-keris agung yang dimiliki oleh Raja dan bangsawan atau memang dalam pembuatannya sengaja digunakan sebagai sipat kandel sehingga tidak terlalu menonjolkan unsur pamer estetika.
PAMOR KULIT SEMANGKA NGGAJIH, adalah penamaan pamor berdasarkan kesan penglihatan. Nggajih artinya serupa dengan lemak. Pamor yang tampak di permukaan bilah seperti berlemak disebut pamor nggajih. Jadi, apapun jenis dan nama pola gambaran pamor itu, kalau penampakannya seperti lemak kering, disebut nggajih. Misalnya, pamor wos wutah nggajih, ngulit semangka nggajih. Sebagian ahli perkerisan menduga, keris berpamor nggajih lebih banyak dikarenakan berasal bahan material yang simple atau mudah ditemukan (pasir besi dari pantai) dan diolah (smelting) dengan cara lebih sederhana atau tradisional.
Koesni dalam bukunya : Pakem Pengetahuan Tentang Keris mendeskripsikan dengan jelas jenis pamor nggajih, dimana pamor yang pengetrapannya hanya diluluhkan di atas wilahan. Pengetrapan pamor seperti tersebut di atas, penggarapannya kelihatannya mudah, tetapi empu yang menangani harus teliti dan cekatan, selain itu harus mempunyai keahlian dalam membuat gambar yang bermutu. Cara-cara pembuatannya adalah sebagai berikut :

Mungkin berminat ?
Menur yang Letaknya diatas Payung Agung

Lempengan pamor atau bubukan pamor disediakan lebih dulu (biasanya bukan dari batu meteorit tetapi logam yang titik leburnya lebih rendah dari besi). Setelah wilahan dibakar dan terasa sudah panas membara, besi pamor segera dituangkan mulai dari pangkal wilahan langsung mengarah ke bagian pucuk. Jatuhnya pamor di wilah ditunggu sampai kelihatan leleh, keris digerak-gerakkan menurut inspirasi batin sang Empu, tanpa putus mengalir ke arah ujung wilah. Bila sudah sampai pada bagian ujung ada dua macam tindakan sang Empu. Apakah pamor yang dituangkan itu kembali diluluhkan ke arah pangkal, ataukah sudah cukup sekali tuang saja. Inilah cara pengetrapan pamor yang seperti disebutkan di atas disebutpamor luluhan yang tidak perlu memakai tekanan-tekanan jari dan alat-alat lain. Cara ini biasa digunakan Empu luar keraton, empu Desa atau disebut juga empu Njawi. Pengetrapan pamor seperti ini jika sudah jadi dinamakan ‘pamor nggajih’.