1.100.000

Karya Seni Patung_Begawan Pangeran Abiyoso Kuningan Full

1 dari
Sebelumnya Selanjutnya

Detail Iklan

  • ID Iklan: 3939

  • Ditambahkan: Desember 28, 2018

  • Harga Jual: 1.100.000

  • Kondisi: Bekas

  • Daerah: Jawa Timur

  • Kota: Sidoarjo

  • Telepon: 08995545878

  • Pengunjung: 139

  • Tanyakan: Via WhatsApp

Deskripsi

Karya Seni Patung Begawan Pangeran Abiyoso Kuningan Full
Sekilas tentang Begawan Pangeran Abiyoso
Abiyasa, Begawan
ABIYASA, yang bergelar begawan, adalah kakek keluarga Pandawa dan Kurawa. Ayah Abiyasa adalah Begawan Palasara, yang terkenal dari Gunung Rahtawu. Ibunya, yang bernama Dewi Durgandini, telah pergi meninggalkannya sejak Abiyasa masih bayi. Ayahnyalah yang memulihkan, merawat, membesarkan, dan mendidik ‘Abiyasa. Mula-mula mereka hidup berkelana dari negeri satu ke negeri lain, tetapi kemudian menetap di Pertapaan Sata Arga (Di pedalangan sering disebut Pertapaan Sapta Arga). Dari Begawan Palasara ia mewarisi bakat sebagai pertapa, selain mendapat pertanggungan tentang ilmu kesusasteraan dan ketatanegaraan.

Abiyasa, Begawan [Solo]

Menurut cerita pewayangan, kompilasi masih bayi Abiyasa pernah berebut susu Dewi Durgandini dengan bayi Dewabrata, yang kemudian lebih dikenal dengan Resi Bisma. Waktu itu, Sentanu datang ke Astina bersama Dewabrata, dan meminta agar Dewi Durgandini mau membagi udara susunya pada Dewabrata. Dewi Durgandini, yang saat itu menjadi permaisuri Palasara tidak berkeberatan. Namun demikian Dewabrata sangat rakus, sehingga Abiyasa sering tidak kebagian air susu izin sendiri. Ini membuat Palasara, yang kompilasi itu sudah menjadi raja dan bergelar Prabu Dipakiswara, marah. Karena pertimbangan air susu itu akhirnya Sentanu berperang tanding dengan Palasara. Batara Narada yang turun dari kahyangan segera datang melerai mereka. Dewa mengatakan itu sesuai kehendak para dewa Palasara harus mengalah pada Sentanu.

Dengan begitu, kompilasi masih bayi

Cerita tentang kelahiran Abiyasa ini, wayang Purwa Jawatimuran versinya lain lagi. Pada pedalangan dari Jawa Timur, ibu Abiyasa bernama Dewi Ambarwati. Pada saat Abiyasa lahir, saat ditidurkan, Begawan Palasara melihat sebuah gerakan kecil-gerak disamping bayi Abiyasa. Setelah dipertimbangkan, gunakan itu adalah seekor re / (belatung). Dengan kesaktian yang dimodifikasi, Begawan Palasara mengubah ujud set itu menjadi ksatria perkasa yang kemudian diberi nama Seta.

Pada waktu Abiyasa mengundang sembilan bulan, Palasara mengundang diundang pindah ke Pertapaan Sapta Arga. Tapi Dewi Ambarwati menolak. Karena itu, Palasara pergi sendiri bersama bayi Abiyasa. Tak lama setelah kepergian suami dan berlalu. Dewi Ambarwati sadar akan mengambilnya sebagai istri dan ibu. Karenanya ia melanjutkan melanjutkan ke Sapta Arga. Di peijalanan Ambarwati bertemu dengan Sentanu yang menggendong domba, Dewabrata, yang sedang menangis kehausan. Dewi Ambarwati lalu menyusui bayi Dewabrata. Bahkan kemudian Dewi Ambarwati memakan Dewabrata sampai dewasa.

Sebagai balas budi karena dibesarkan air Susu Dewi Ambarwati, maka Dewabrata yang kemudian lebih dikenal sebagai Resi Bisma, dikirim takhta Astina ke Abiyasa.

Demikian menurut pedalangan di Jawa Timur.

Ketika kemudian menjadi raja Astina, Abiyasa bergelar Prabu Krisnadwipayana, yang berarti ‘manusia berkulit hitam yang dilahirkan di pulau *. Abiyasa memang membahas sebuah pulau kecil di tengah sungai Yamuna, dan kulitnya memang hitam. Dalam pewayangan, kisah kelahiran Abiyasa adalah sebagai berikut:

Dewi Durgandini yang hidup sebagai wanita pendayung kapal tambangan di Sungai Yamuna, suatu hari mendapat pelanggan pertapa muda. Pertapa itu, Begawan Palasara yang saat itu sedang berkelana, meminta agar diseberangkan ke sisi lain sungai itu. Di dalam perahu, Palasara menawarkan jasanya untuk menyembuhkan penyakit kulit yang sedang diderita Durgandini. Ternyata penyakit itu bukan penyakit biasa. Waktu Palasara mengobatinya, Sang Penyakit melawan, sehingga terjadi perkelahian. Perkelahian dahsyat yang menyebabkan teijadinya badai di sekitar perahu itu. Sang Penyakit akhirnya kalah, dan menjelma menjadi pria berwajah buruk, bernama Rajamala. Sementara itu, naiklah badai dan serunya perkelahian, perahu tambangan itu pun pecah dua. Kedua pecahan perahu itu menjelma menjadi dua orang pria yang oleh Palasara bernama nama Kencakarupa dan Rupakenca. Dayungnya menjelma menjadi

Mungkin berminat ?
Suplier Golok sembelih polos sk 07

seorang putri cantik, yang diberi nama Dewi Re-katawati. Keempat manusia jadian meminta izin sebagai anak Palasara. Sesudah permintaan itu dikabulkan. oleh Palasara Inggrisnya disuruh pergi ke Kerajaan Wirata.

Pecahnya perahu itu menyebabkan Palasara dan Dewi Durgandini terdampar di sebuah pulau. Di pulau inilah Durgandini hamil dan beberapa bulan kemudian Abiyasa lahir. (Baca juga Durgandini, Dewi)

Sebagai seorang pertapa sesungguhnya Abiyasa tidak pernah berkeinginan menjadi raja. Lagi pula, ia berhak tidak berhak Kerajaan Astina, karena ia tahu yang berhak atas Resi Bisma alias Dewabrata, putra Prabu Sentanu, raja Astina yang diluncurkan. Namun karena Resi Bisma sudah bersumpah tidak akan meminta tahkta Astina, Abiyasa menyetujui sesuai keinginan, menjadi raja. Ibu Abiyasa, Dewi Durgandini, berpisah dengan Palasara menjadi permaisuri Prabu Sentanu.

Sebelum Abiyasa naik takhta, yang menjadi raja Astina adalah Citranggada dan Wicitrawirya. Namun putra kedua Dewi Durgandini dari Prabu Sentanu tidak panjang. Dianggap mati muda.

Sebenarnya, selain mengemban tugas menjadi raja Astina, langsung juga Abiyasa juga memiliki persetujuan untuk menyelesaikan garis keluarga Barata atau keluarga Kuru. Tugas kedua dari yang ditunaikannya dengan baik. Selain mengisi lowongan takhta Kerajaan Astina, oleh Dewi Durgandini, Abiyasa juga disuruh mengawini janda-janda kedua adik tirinya. Dengan demikian ia telah membuahkan anak-anak yang diharapkan.

Setelah usianya melanjutkan, dan setelah pewaris tahta Astina ada, Abiyasa menempatkan jabatan sebagai raja, pergi kembali ke Gunung Rahtawu untuk menjadi pertapa lagi. Kepada anak-anak dan cucu-cucunya selalu menyenangkan, karena ia sadar para Kurawa sering melakukan tidak adil untuk para Pandawa.

Kedua janda adik tirinya yang dikawini oleh Abiyasa itu bernama Dewi Ambika dan Ambalika. Dihasilkan putri Prabu Darmamuka dari Kerajaan Gi-yantipura. Mulanya kedua putri itu sekaligus menjadi permaisuri Prabu Citranggada. Setelah Citranggada meninggal, Sempat diperistri Wicitrawirya.Dan, Sambil Prabu Wicitrawirya juga meninggal, Sempat lalu menjadi istri Abiyasa. Namun setelah perkawinan itu. di luar kemauan Abiyasa pula, ia mengambil seorang dayang istana sebagai selirnya. Nama dayang itu adalah Drati.

Dari tiga wanita yang diperistrinya masing-masing Abiyasa mendapat putra. Putra ketiga yang diberi nama Drestarastra, Pandu Dewanata, dan Yama Widura. Ketiganya penyandang cacat. Drestarastra yang tunanetra sejak lahir kemudian menurunkan para Kurawa, sedangkan Pandu Dewanata yang cacat pada lehernya serta berwajah pucat, menurunkan para Pandawa. Putra Abiyasa yang bungsu, Yama Widura, sebelah kiri, dan kemudian menjadi Kerajaan Astina.

Cacat tubuh yang diderita tiga dari yang sebenarnya disebabkan karena kutukan dewa, sebab dari yang disebut jijik kompilasi harus melayani Abiyasa di tempat tidur. Meskipun pribadinya terpuji dan selalu terlihat lembut, Abiyasa memang berwajah buruk, kulitnya kasar, dan hitam. Penampilan badaniah

Abiyasa memang sangat berbeda dengan suami-suami kedua putri itu dulu. Baik Prabu Citranggada maupun Wicitrawirya, tersedia tampan dan gagah.

Dewi Ambika selaku istri pertama harus memejamkan leher pada saat harus menunggu di ranjang. Tolak, ia dikutuk para dewa sehingga anak yang kemudian diambilnya sangat besar. Anak itu diberi nama Destarata atau Drestarastra. Istri Abiyasa yang kedua, Dewi Ambalika, dengan wajah pucat selalu memalingkan muka jika mau selaku istri. Wajah putri itu pun selalu pucat di tempat tidur. Ia pun mengutuk para dewa sehingga bayi yang menariknya mem-punyai leher kaku dan pucatuturan. Bayi itu diberi nama Pandu Dewanata.

Mungkin berminat ?
Suplier GOLOK SEMBELIH SONO KELING BAJA PER

Karena enggan dilayani di tempat tidur, kedua istri Abiyasa itu menyetujui untuk menyelundupkan seorang dayang istana bernama Drati ke kamar peraduan Abiyasa. Ternyata dayang Drati, yang kemudian diambil sebagai selir pun tidak ikhlas dalam melayani Abiyasa sebagai persiapan. Ia selalu menggelinjangkan persiapan jika sedang melayani Abiyasa.

Karena itu ia juga dikutuk dewa bayi laki-laki yang ditolak cacat. Putra Drati diberi nama Yama Widura, yang panjang terletak diserahkan. ***)

Karena Drestarastra tunanetra, takhta Astina diwariskan kepada anak yang kedua, Pandu Dewanata. Keputusan ini diambil bukan karena Abiyasa lebih sayang pada Pandu dari kakaknya, tetapi hanya-mata karena kepentingan kerajaan. Seorang raja tunanetra, menurut pertimbangan Abiyasa tidak akan dapat menjalankan pemerintahan dengan baik. Keputusan ini disetujui oleh Dewi Durgandini, izin. Dan, terbukti keputusan Abiyasa memang tepat. Pandu ternyata bisa mengalahkan Astina dengan baik, adil, dan bijaksana.

Abiyasa senang sangat panjang. Setelah melepaskan mahkota dan hidup sebagai pertapa, ia masih selalu mengingat keadaan Kerajaan Astina. Dengan senang hati Abiyasa memberikan nasihat-nasihatnya pada anak cucunya saat mendukung.

Sesepuh keluarga Kurawa dan Pandawa bisa menyaksikan upacara penobatan cicitnya, Parikesit, menjadi raja Astina. Sebaliknya gelar yang digunakan oleh Parikesit setelah ia menjadi raja, juga Prabu Krisnadwipayana, rumggak semi ***) memakai nama kakek buyutnya.

Abiyasa meninggal secara sempurna, yang dalam bahasa pewayangan disebut moksa. Waktu akan masuk ke sorga, ia meminta pada para dewa agar raganya juga dibolehkan ikut. Tuntutan itu dikabulkan, dan menjemput raga Abiyasa dengan kereta cahaya.

Tentang kematian Abiyasa ini, sebuah versi Mahabarata mengutip sebagai berikut:

Saat mendaratlah di alun-alun Astina, sebuah Kretacahya, yaitu kereta cahaya. Tidak seorang pun kuat bertahan melawan hawa panas yang memancar dari dalam kereta itu. Semua Keluarga Pandawa mencoba, tetapi mereka pun tidak tahan. Akhirnya Prabu Puntadewa meminta agar Begawan Abiyasa menyetujui. Waktu kakek para Pandawa itu keluar dari keraton dan melihat Kretacahya itu, ia segera mahfum yang dibawa kendaraan yang menjemputnya pergi ke alam abadi. Maka sang Begawan lalu memberikan pesan-pesan terakhirnya kepada sekalian anak cucu, terutama untuk Prabu Puntadewa dan Prabu Parikesit, tentang cara membuat negara dengan baik. Sesudah itu, ia pun masuk ke dalam kereta cahaya itu, yang dikirim ke langit, ke alam kematian abadi.

Mengenai kapan saja moksanya Abiyasa, sumber pewayangan maupun Mahabarata memiliki data yang berbeda.

Menurut pewayangan, Abiyasa moksa setelah Parikesit, anak Abimanyu diterima 35 hari. Untuk mendapatkan berkah restu dari grand buyutnya, pada saat

upacara selapanan Parikesit dipangku oleh Abiyasa, yang sengaja datang ke Istana Astina dari Pertapaan Wukirahtawu di Sata Arga. Beberapa saat setelah memangku buyutnya, Abiyasa menerima ajalnya sudah tiba, namun ia tidak mau berangkat ke sorga bilamana tidak berangkat oleh jazadnya. Para dewa mengabulkan pemulihan itu, dan mengirim kereta cahaya guna menjemputnya. Moksanya Abiyasa disaksikan segenap keluarga Pandawa, Prabu Kresna dan Prabu Baladewa.

Mungkin berminat ?
Suplier GAGANG GOLOK

Sementara itu menurut Adiwangsawatarana Parwa, yang merupakan bagian dari Mahabarata, Abiyasa moksa pada zaman pemerintahan Prabu Janamejaya, cucu Parikesit. Peristiwa moksanya juga terjadi di Istana Astina.

Abiyasa atau Wyasa inilah yang menulis Kitab Mahabarata, yang di kemudian hari oleh para pujangga Indonesia diadaptasikan menjadi bahan cerita wayang. Suku Bangsa Jawa, juga mengenal Abiyasa dengan sebutan Empu Wiyasa.

Selain bergelar Prabu Krisnadwipayana, Abiyasa juga memiliki beberapa nama yang lain. Nama Dewayana yang diberikan karena ia memiliki sifat-sifat seperti dewa. Ia pun disebut Sutiksnaprawa, yang berarti ‘orang yang arif bijaksana *. Gelar lainnya adalah Rancakaprawa yang berarti suka menolong mereka yang ditimpa kemalangan. Nama Abiyasa sendiri mengandung arti ‘orang yang selalu dekat dengan sifat-sifat yang terpuji.’ Abi atau abhi artinya dekat, sedangkan yasa artinya sifat yang terpuji. Sementara dalam Wayang Golek Purwa Sunda, Abiyasa juga disebut Subyasa, dan Wijana.

Pada lakon-lakon pewayangan, termasuk lakon carangan, Begawan Abiyasa lebih sering terlibat dalam alur cerita. Banyak orang yang berbicara tentang Pandawa atau putra mereka meminta petunjuk, meminta, atau arahan dari pertapa tua ini. Abiyasa juga aktif memberikan nasihat, bahkan juga membahas pada para Kurawa dan Prabu Drestarastra tentang sikap mereka yang dinilainya kurang adil,

kurang jujur, dan serakah. Drestarastra membantah terlalu lemah, terlalu menuruti bujukan dan hasutan istri dan anak-anak. Karena senang sarannya diabaikan dan kata-katanya tidak didengarkan, pernah keluar kutukan dari Begawan Abiyasa pada anak sulungnya itu.

Katanya: “Kalau Drestarastra Dan Gendari Masih also Selalu memanjakan anak-anaknya Dan melindungi Perbuatan jahatnya, Maka Kelak besarbesaran Dan istrinya akan mati diinjak-injak anaknya Sendiri …”

Kata-kata Bertuah Penyanyi, hearts cerita pewayangan, kemudian Ternyata Terbukti. (Baca Drestarastra, Prabu)

Kutukan itu diucapkan tatkala Abiyasa mendengar berita tentang pengusiran para Pandawa dan Dewi Drupadi dari istana dan dikeluarkan ke hutan kemudian mereka kalah beijudi.

Namun sebagian dari kutukan itu diucapkan beberapa saat setelah Ahi sadar dari pingsan, setelah para Kurawa menr? sendiri hingga roboh dan pingsan, dalam lak Rebutan Lenga Tala. (Baca Lenga Tala)

Sewaktu Pandu Dewanata meninggal karena kutukan Resi Kimindama, Abiyasa tahu bahwa Batara Guru menjebloskan putranya ke neraka. Ia marah dan naik ke Kahyangan, mengajukan protesnya pada Batara Guru yang menganggapnya tidak adil. Pemuka dewa itu tetap pada pendiriannya sehingga Abiyasa berucap, siap melakukan apa saja untuk menebus dosa-dosa Pandu Dewanata, berlalu.

Kemarahan Abiyasa akhirnya diredakan oleh Batara Endra, dengan menyatakan bahwa dapat mengentaskan Pandu Dewan dari dari mana anak-anak bisa ditangkap. Bukan bapaknya.

Kitab Mahabarata yang asli adalah mahakarya Begawan Abiyasa sebagai pujangga sastra. Buku, yang kemudian dianggap sebagai satu Buku Suci untuk agama Hindu, terdiri atas 18 parwa, dan lebih dari 7.000 seloka. Dalam tulisan karya besar ini, Abiyasa diundang oleh Batara Ganesa, dewa yang berkepala gajah, dan dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan dan sastra senior.